Sunday, October 23, 2016

KEBIJAKSANAAN PUBLIK DAN AKUNTABILITAS ADMINISTRASI




Dasar-dasar Kebijaksanaan Publik

Studi kebijaksanaan publik merupakan dimensi baru dalam administrasi negara, yang harus tumbuh dengan cepat. Pada umumnya kebijaksanaan publik dimaksudkan sebagai apa yang dilakukan dan apa yang tidak dilakukan oleh pemerintah. Ada tiga faktor yang mengeratkan hubungan kebijaksanaan publik dengan institusi pemerintah:
1. Pemerintah yang memberikan legitimasi pada kebijaksanaan publik
2. Kebijaksanaan publik mengandung aspek yang bersifat universal
3. Pemerintah merupakan satu-satunya lembaga yang dapat melakukan pemaksaan kepada masyarakat.
Dasar pembentukan kebijaksanaan publik adalah kepentingan publik. Tetapi, tidak mudah untuk merumuskan apa dan manakah suatu kepentingan yang benar-benar bersifat publik. Karena itu, dikatakan bahwa kepentingan publik adalah kepentingan-kepentingan yang menyangkut kepentingan masyarakat. Atas dasar pandangan demikian, kebijaksanaan publik tidak hanya dibuat oleh pemerintah saja, tetapi dapat juga dibuat oleh organisasiorganisasi lain.
Model-model analisis yang dipergunakan untuk menganalisis kebijaksanaan publik menurut Thomas R. Dye adalah model:
a. Sistem, 
b. Massa Elit, 
c. Kelompok, 
d. Rasional, 
e. Inkremental, dan 
f. Institusional.
Sedang menurut Robert Presthus pendekatan-pendekatan dalam analisis kebijaksanaan publik terdiri dari:
a. Kebijaksanaan sebagai Proses Hasil
b. Studi Kasus
c. Strategi Inkremental Terpisah
d. Kebijaksanaan sebagai, variabel Independen.

Akuntabilitas Administrasi

Ada dua istilah yang seringkali digunakan saling berganti dalam studi administrasi negara, yakni: pertanggungan jawab dan akuntabilitas. Sebenarnya, keduanya dapat dibedakan. Akuntabilitas menunjuk locus hierarkis dan legal dari tanggung jawab. Sedang tanggung jawab mempunyai konotasi personal, moral, dan tidak perlu dihubungkan dengan peranan, status, dan kekuasaan yang bersifat formal.
Akuntabiiitas administrasi merupakan hal pokok dalam pikiran-pikiran negara demokratik modern. Ia mengesankan sebagai suatu dasar moral bagi pejabat publik dalam melakukan kegiatannya.
Ada dua pendekatan yang dapat digunakan untuk menilai apakah sistem administrasi berjalan secara bertanggung jawab. Pendekatan pertama memusatkan perhatiannya pada keseluruhan sistem; sedangkan pendekatan kedua berfokus pada pertanggungan jawab individual. Sarana yang dapat dipergunakan untuk menjamin administrasi yang bertanggung jawab adalah: sarana legal/institusional, moral dan politik.


Proses Kebijaksanaan Publik

Tahap yang ada dalam proses kebijaksanaan publik, menurut Anderson terdiri dari: formasi masalah, formulasi kebijaksanaan, adopsi kebijaksanaan, implementasi kebijaksanaan, dan evaluasi kebijaksanaan; menurut Jones proses kebijaksanaan publik terdiri dari: persepsi, definisi, agregasi, organisasi, evaluasi, dan terminasi kebijaksanaan; menurut Brewer tahap-tahap dalam proses kebijaksanaan publik adalah: estimasi, seleksi, implementasi, evaluasi dan terminasi kebijaksanaan; menurut Mc Nicholas proses kebijaksanaan publik terdiri dari: tahap formulasi, tahap implementasi, tahap organisasi, tahap interpretasi, dan tahap reformulasi. Modul ini memandang proses kebijaksanaan publik terdiri dari empat tahap berikut: formulasi kebijaksanaan, implementasi kebijaksanaan, evaluasi kebijaksanaan, dan terminasi kebijaksanaan.
Formulasi kebijaksanaan membahas cara masalah publik memperoleh perhatian dari pembuat kebijaksanaan, cara perumusan usul kebijaksanaan, dan cara memilih salah satu usul kebijaksanaan di antara alternatif-alternatif. Formulasi kebijaksanaan sangat erat hubungannya dengan konsep kepentingan publik.
Implementasi kebijaksanaan menunjuk pada pelaksanaan kebijaksanaan publik secara etektif. Kesulitan yang timbul dalam tahap ini adalah sukarnya menentukan hasil kebijaksanaan, karena adanya dampak yang tidak teran-tisipasi sebelumnya. Evaluasi kebijaksanaan dimaksudkan untuk mengukur efektifitas dan dampak kebijaksanaan. Alat yang dapat dipergunakan antara lain “performance budgeting”, “program budgeting” dan PPBS. Untuk melaksanakan evaluasi kebijaksanaan diperlukan standar pengukuran yang baku. Tetapi dalam kenyataannya indikator-indikator yang dipergunakan tidak sepenuhnya mampu menerangkan kualitas penampilan program.
Terminasi kebijaksanaan menunjuk proses penyelesaian satu kebijaksanaan. Hal ini timbul, jika tujuan kebijaksanaan sudah tiada. Ada pelbagai hambatan dalam melakukan terminasi kebijaksanaan. Cara-cara untuk mengatasi hambatan ini adalah kebijaksanaan memberikan rangsangan, dan melakukan identifikasi terhadap titik rawan yang mengalami terminasi.

Perspektif Akuntabilitas

Jabbra dan Dwidevi (1988) mengemukakan ada empat perspektif akuntabilitas, yaitu:
1. akuntabilitas organisasional/administratif, yaitu pertanggungjawaban antara pejabat yang berwenang dengan unit bawahannya dalam hubungan hirarki yang jelas, contoh Inpres Nomor 7 Tahun 1999 tentang AKIP
2. akuntabilitas legal : lebih merujuk pada domain publik dikaitkan dengan proses legislatif dan yudikatif, bentuknya dapat berupa peninjauan kembali kebijakan yang telah diambil oleh pejabat publik atau pembatalan peraturan oleh yudikatif.
3. akuntabilitas politik: berkaitan dengan legitimasi program-program yang telah dibuat oleh pemerintah untuk kepentingan publik.
4. akuntabilitas moral: berkaitan dengan tata nilai yang berlaku di kalangan masyarakat. Akuntabilitas ini lebih banyak berbicara tentang baik atau buruknya suatu kinerja dan tindakan berdasarkan ukuran tata nilai yang berlaku setempat.

Salah satu pencapaian Kementerian, Lembaga, Dinas, dan Instansi (K/L/D/I) dalam aspek akuntabilitas adalah adanya predikat Wajar Tanpa Pengecualian (WTP).Bagaimana komentar anda terkait hal tersebut (apakah mencerminkan kondisi akutabilitas sesungguhnya) diskusikan hal tersebut!



Diskusi 7

Salah satu pencapaian Kementerian, Lembaga, Dinas, dan Instansi (K/L/D/I) dalam aspek akuntabilitas adalah adanya predikat Wajar Tanpa Pengecualian (WTP).Bagaimana komentar anda terkait hal tersebut (apakah mencerminkan kondisi akutabilitas sesungguhnya) diskusikan hal tersebut!

Jawab
Salah satu pencapaian Kementerian, Lembaga, Dinas, dan Instansi (K/L/D/I) dalam aspek akuntabilitas adalah adanya predikat Wajar Tanpa Pengecualian (WTP)  dibutuhkan usaha sungguh-sungguh dan kerja keras semua pimpinan lembaga/instansi dan pengelola administrasi keuangan,  meningkatkan komitmen pimpinan bahwa pentingnya proses penyusunan laporan keuangan yang berkualitas, akuntabel dan sesuai Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP), baik di tingkat Satker, Wilayah, Eselon I dan Kementerian , Tersusunnya Laporan Keuangan Tingkat satker dan Wilayah  sesuai dengan Peraturan Perundang-undangan yang berlaku dan tersusunnya Laporan Keuangan (SAK dan SIMAK BMN) dari tingkat Satker yang terdiri atas Kantor Pusat (KP), Kantor Daerah (KD), Dekonsentrasi (Dekon) dan Tugas Pembantuan (TP), dari Satker Kabupaten/Propinsi  , Tingkat Wilayah (UAPPA/B-W).

ULAMA SALAF DALAM BERBAKTI KEPADA IBU


ULAMA SALAF DALAM BERBAKTI KEPADA IBU
Dari Muhammad bin Sirin diriwayatkan bahwa ia berkata:Pada masa pemerintahan Utsman bin Affan, harga pokok kurma mencapai seribu dirham. Maka Usamah (beliau adalah Usamah bin Zaid bin Haritsah, orang kesayangan Nabi kita Shalallahu alihi wassalam dan juga anak dari orang kesayangan beliau. Ibu beliau adalah Ummu Aiman, orang yang merawat Rasulullah dimasa kecilnya mengambil dan menebang sebatang pohon kurma dan mencabut umbutnya (yakni bagian di ujung pangkal kurma berwarna putih, berlemak berbentuk seperti punuk unta, biasa dimakan bersama madu) lalu diberikannya kepada ibunya untuk dimakan.
Orang-orang bertanya:”Apa yang menyebabkan engkau melakukan hal itu? padahal engkau tahu bahwa pokok kurma kini harganya mencapai seribu dirham?” beliau menjawab:”Ibuku menghendakinya.
Setiap ibuku menginginkan sesuatu yang mampu kudapatkan, aku pasti memberikannya”.
Dari Abdullah bin Al-Mubarak diriwayatkan bahwa ia berkata:”Muhammad bin Al-Munkadir pernah berkata:”Umar (yakni saudaranya) suatu malam melakukan shalat, sementara aku memijit-mijit kaki ibuku. Aku tidak ingin kalau malamku kugunakan seperti malamnya”
Dari Ibnu Aun diriwaytakan bahwa ia berkata:”Seorang lelaki datang menemui Muhammad bin Sirin dirumah ibunya. ia bertanya: ”Bagaimana keadaan Muhammad dirumah ini? Apakah ia mengeluhkan sesuatu?” Orang-orang disitu menjwab:”Tidak sama sekali!
Demikianlah keadaannya bila berada dirumah ibunya” Dari Hisyam bin Hissan, dari Hafsah binti Sirin diriwayatkan bahwa ia berkata:”Muhammad, apabila menemui ibunya, tidak pernah berbicara dengannya, dengan mengumbar omongan, demi menghormati ibunya tersebut”
Dari Ibnu Aun diriwayatkan bahwa ia berkata: ”Suatu hari ibunya memanggil beliau, namun beliau menyambut panggilan itu dengan suara yang lebih keras dari suara ibunya. Maka beliau segera membebaskan dua orang budak”
Dari Hisyam bin Hasan diriwayatkan bahwa ia berkata: ”Hudzail bin Hafshah biasa mengumpulkan kayu bakar pada musim panas untuk dikuliti. Ia juga mengambil bambu dan membelahnya.Hafshah (ibunya) berkata: ”Aku tinggal mendapatkan enaknya saja. Dan bila datang musim dingin, dia membawakan tungku dan meletakkannya dibelakang punggungku, sementara aku sendiri berdiam di tempat shalatku.
Kemudian dia duduk, membakar kayu bakar yang sudah dikupas kulitnya berikut bambu sehingga telah dibelah-belah untuk dijadikan bahan bakar sehingga asapnya tidak mengganggu, tetapi bisa menghangatkan tubuhku.
Demikianlah waktu berlaku menurut kehendak Allah” Hafshah melanjutkan:”Sebenarnya ada yang bersedia mencukupi kebutuhannya, kalau dia mau.”Ia melanjutkan lagi:”Dan kadangkala aku ingin mendatanginya, lalu kukatakan kepada anakku itu:”Wahai anakku, kamu bisa pulang dulu kerumah istrimu” Setelah itu aku memberitahukan kepada anakku itu apa yang menjadi kebutuhannya, lalu aku membiarkannya”
Hafshah melanjutkan kisahnya:”Ketika anakku itu menjelang wafatnya, Allah memberikan kepadanya kesabaran yang begitu tinggi, hanya saja aku merasakan suatu ganjalan yang tidak bisa hilang” Ia melanjutkan:”Suatu malam aku membaca ayat dalam surat An-Nahl berikut: ”Dan janganlah kamu tukar perjanjianmu dengan Allah dengan harga yang sedikit (murah), sesungguhnya apa yang ada di sisi Allah, itulah yang lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui. Apa yang dari sisimu akan lenyap, dan apa yang ada disisi Allah adalah kekal. Dan sesungguhnya Kami akan memberi balasan kepada orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan” (An-Nahl:95-96)
Aku terus mengulang-ulang ayat tersebut, hingga Allah menghilangkan kegundahan dalam hatiku”
Hisyam berkata:”Beliau memiliki unta bersusu banyak dan segar.
Hafshah mengisahkan:”Dia pernah mengirimkan kepadaku susu perasan disuatu pagi. Aku berkata:Hai, anakku, kamu tentu tahu bahwa aku sedang tidak bisa meminumnya, aku sedang puasa”Dia menanggapi ucapanku:
”Wahai Ummu Hudzail, sesungguhnya susu yang paling bagus adalah yang sempat bermalam di tetek unta. Kalau engkau mau, silahkan beri orang yang kamu suka”